Jurnalbmr — Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan meninggal dunia setelah diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku tulis dan pena untuk keperluan sekolah. Peristiwa ini terjadi pada akhir Januari 2026 dan kini menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Korban berusia 10 tahun, tercatat sebagai siswa kelas IV SD. Berdasarkan keterangan warga dan aparat setempat, anak tersebut sebelumnya meminta uang kepada ibunya untuk membeli perlengkapan sekolah. Namun, permintaan itu tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Ibu korban diketahui merupakan orang tua tunggal yang menghidupi beberapa anak dengan bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Kondisi ekonomi keluarga disebut berada dalam kategori rentan dan serba kekurangan.
Pihak kepolisian setempat telah melakukan pemeriksaan awal dan menyimpulkan bahwa korban meninggal dunia akibat tindakan mengakhiri hidupnya sendiri. Proses pendalaman kasus masih dilakukan untuk memastikan seluruh latar belakang kejadian.
Peristiwa ini memicu reaksi dari pemerintah pusat. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan keprihatinan mendalam dan menegaskan pentingnya penguatan pendataan serta pendampingan terhadap keluarga miskin ekstrem agar kebutuhan dasar anak, termasuk perlengkapan pendidikan, dapat terpenuhi.
Sementara itu, sejumlah anggota DPR RI Komisi X menilai kejadian tersebut sebagai peringatan keras bagi negara. Mereka menekankan bahwa akses terhadap pendidikan dasar, termasuk alat tulis dan buku, merupakan hak anak yang harus dijamin sepenuhnya oleh negara.
Kasus ini menambah daftar persoalan serius dalam pemenuhan hak pendidikan di wilayah terpencil dan menjadi sorotan terhadap efektivitas program bantuan sosial serta peran sekolah dalam mendeteksi kondisi sosial siswa sejak dini.
Dikutip dari Kompas









