banner 728x250

Perjalanan Inspiratif: Dari Calo ke Puncak Lion Air, Kisah Sukses Sang Bos yang Pernah Menjalani Hidup Melarat

avatar Tidak diketahui
banner 468x60


JURNALBMR.COM, Jakarta – Sebelum tahun 2000, harga tiket pesawat di Indonesia hanya dapat dijangkau oleh golongan atas karena tingginya biaya. Di sisi lain, masyarakat kelas menengah dan bawah terpaksa menggunakan jalur darat untuk bepergian. Melihat kesenjangan tersebut, Rusdi Kirana terinspirasi untuk mendirikan maskapai penerbangan dengan harga terjangkau, agar seluruh lapisan masyarakat bisa menikmatinya. Gagasan ini muncul saat ia menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila, sambil menjalankan usaha sampingan sebagai calo tiket di Bandara Soekarno-Hatta.

Dari pengalaman bisnis sampingan ini, Rusdi memahami seluk-beluk penerbangan dan memperoleh modal untuk memperluas bisnis. Pada tahun 1990-an, bersama saudaranya, Kusnan Kirana, ia mendirikan biro perjalanan bernama “Lion Tour.” Nama “Lion” dipilih karena keduanya berzodiak Leo. Mengutip dari majalah Warta Ekonomi (2006), bisnis ini dijalankannya selama 13 tahun sebelum mencapai perkembangan pesat pada tahun 1999. Tahun itu, seiring dibukanya izin pendirian maskapai swasta baru di Indonesia, Rusdi dan Kusnan mendirikan “Lion Air.”

Bermodalkan dua pesawat sewaan, izin maskapai berhasil diperoleh pada tahun 1999, meskipun operasi resmi baru dimulai pada 30 Juni 2000. Rute penerbangan pertama Lion Air adalah Jakarta-Pontianak dengan tarif Rp 300.000, jauh lebih rendah dibandingkan kompetitornya yang mematok harga Rp 1,1 juta. Rute Jakarta-Manado juga dibuka dengan biaya hanya Rp 400.000, turun dari harga biasa Rp 2,1 juta.

Meskipun banyak yang meragukan kelangsungan bisnisnya, Lion Air justru berhasil menjelma menjadi alternatif utama bagi masyarakat untuk terbang. Hingga tahun 2004, Lion Air telah mengoperasikan 23 pesawat dengan layanan harian mencapai 130 penerbangan di Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Jumlah armada terus bertambah, dan sebelum pandemi, Lion Air mendominasi Terminal 1 di Bandara Soekarno-Hatta. Maskapai ini juga mengelola beberapa anak perusahaan, seperti Wings Air, Batik Air, Lion Bizjet, Malindo Air dari Malaysia, dan Thai Lion Air dari Thailand.

Kesuksesan tersebut memantapkan posisi Lion Air sebagai maskapai berbiaya rendah dengan slogan, “We Make People Fly.” Pada tahun 2018, maskapai ini mencatatkan 36,8 juta penumpang, mewakili 35% dari total perjalanan antar pulau dan kota di Indonesia.

Lion Air kemudian meluncurkan maskapai baru, Super Air Jet, yang terbang perdana pada 6 Agustus 2021 dengan rute Jakarta-Kualanamu, Medan dan Jakarta-Batam. Super Air Jet menawarkan model pelayanan low-cost carrier dengan rute penerbangan langsung antar kota dan berencana untuk menjangkau rute internasional.

Pada tahun 2017, Rusdi Kirana berada di urutan ke-33 dari 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes, dengan kekayaan mencapai USD 970 juta. Namun, pada tahun 2022, posisinya turun ke urutan ke-38 dengan kekayaan sebesar USD 835 juta.

Meskipun menjadi pelopor penerbangan hemat, Lion Air juga dihadapkan pada kritik mengenai masalah keterlambatan penerbangan yang sering menjadi keluhan penumpang.



Sumber: Klik di Sini

Editor: Redaksi JurnalBMR

Dapatkan informasi ekonomi dan bisnis terbaru setiap hari hanya di JurnalBMR.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *