JURNALBMR.COM, Jakarta
Selama dua dekade terakhir, jenis penyakit infeksi emerging mengalami peningkatan yang signifikan. Penyakit infeksi emerging adalah penyakit yang muncul dan menyerang suatu populasi untuk pertama kalinya, atau telah ada tetapi meningkat dengan cepat, baik dalam hal jumlah kasus baru maupun penyebarannya ke daerah baru.
Salah satu jenis penyakit infeksi emerging yang kini menjadi perhatian global adalah virus Nipah. Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2023, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan virus Nipah sebagai salah satu dari sembilan penyakit infeksi emerging yang berpotensi menjadi epidemi prioritas.
Mengenal Virus Nipah
Virus Nipah (NiV) adalah virus RNA yang termasuk dalam genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae. Virus ini menyebabkan zoonosis atau infeksi yang dapat menular dari hewan ke manusia. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, seperti kelelawar atau babi, serta melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi oleh air liur, urin, atau feses hewan pembawa virus.
Virus ini juga berpotensi menular antar manusia, terutama melalui kontak langsung dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi. Virus Nipah dapat menginfeksi berbagai jenis sel, baik pada manusia maupun hewan, termasuk sel-sel pada sistem saraf, pernapasan, dan kardiovaskular. Infeksi ini dapat berakibat fatal, dengan tingkat kematian diperkirakan mencapai antara 40 persen hingga 75 persen.
Awal Mula Penyebaran
Wabah pertama virus Nipah terjadi di Malaysia pada tahun 1998, di mana tercatat 265 kasus infeksi pada manusia dan 105 korban jiwa, serta lebih dari satu juta ekor babi dimusnahkan. Pada tahun 1999, virus ini menyebar ke Singapura melalui impor babi terinfeksi dari Malaysia. Sejak tahun 2001, virus Nipah muncul secara berkala di Bangladesh dengan lima kali wabah dilaporkan hingga tahun 2021.
Gejala Virus Nipah
Virus Nipah sering menunjukkan gejala yang mirip dengan penyakit flu, sehingga dapat sulit dikenali pada tahap awal. Gejala tersebut meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, mual atau muntah, sakit tenggorokan, hingga batuk. Dalam kasus yang lebih serius, infeksi dapat berkembang menjadi pneumonia dan sindrom gangguan pernapasan akut, yang memerlukan penanganan intensif.
Infeksi virus Nipah juga bisa menyebabkan peradangan otak, ditandai dengan gejala seperti kebingungan, kejang, dan bahkan koma.
Cara Mencegah Penularan Virus Nipah
Saat ini, belum ada obat atau vaksin khusus untuk mencegah infeksi virus Nipah. Namun, pencegahan bisa dilakukan dengan mengendalikan faktor risiko, antara lain:
- Hindari mengonsumsi nira atau aren langsung dari pohon tanpa dimasak terlebih dahulu, karena dapat terkontaminasi oleh kelelawar.
- Selalu cuci dan kupas buah secara menyeluruh sebelum dimakan.
- Segera buang buah yang telah digigit oleh kelelawar.
- Pastikan daging hewan ternak dimasak dengan sempurna.
- Terapkan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan dan menggunakan masker.
- Hindari kontak langsung dengan hewan ternak berisiko. Gunakan alat pelindung diri jika perlu.
- Petugas yang menangani hewan terinfeksi harus menggunakan sarung tangan dan perlengkapan pelindung.
- Tenaga kesehatan dan keluarga pasien harus menerapkan langkah pencegahan dan pengendalian infeksi sesuai standar yang berlaku.
Meskipun belum ada laporan kasus virus Nipah di Indonesia, pemerintah tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada.
Sumber: Klik di Sini
Editor: Redaksi JurnalBMR
Dapatkan informasi ekonomi dan bisnis terbaru setiap hari hanya di JurnalBMR.com.









