banner 728x250

Terjebak dalam Kegelapan: Perjuangan Gaza untuk Menggapai Cahaya di Tengah Konflik Israel-Palestina

avatar Tidak diketahui
Terjebak dalam Kegelapan: Perjuangan Gaza untuk Menggapai Cahaya di Tengah Konflik Israel-Palestina
banner 468x60

JURNALBMR.COM, Manado

Krisis Listrik di Gaza: Sebuah Cerita dari Deir el-Balah

Di Deir el-Balah, Jalur Gaza, setiap pagi, Abdel Karim Salman, seorang mantan insinyur sipil berusia 28 tahun, memulai rutinitasnya dengan membawa ponsel miliknya dan ponsel istrinya yang keduanya dalam kondisi mati total. Ia berjalan menuju titik pengisian daya terdekat untuk mengisi kedua perangkat tersebut.

Sepanjang malam, Abdel Karim mengandalkan senter dari ponsel untuk menerangi tenda yang ia tempati bersama istri dan dua anaknya. Keluarga ini harus merasakan penderitaan yang mendalam sejak rumah mereka hancur pada 9 Oktober 2023, di awal perang yang terjadi di Gaza. Bersama tiga puluh anggota keluarga lainnya, mereka terpaksa berpindah ke Deir el-Balah.

Kondisi di tenda menuntut mereka untuk mencari alternatif penerangan, seperti menggunakan ponsel meski dengan risiko baterai cepat habis. “Saya mengisi ulang ponsel kami untuk digunakan sebagai lampu di malam hari, terutama karena anak-anak kami masih kecil dan mereka merasa takut dalam kegelapan,” ujarnya.

Abdel Karim menegaskan bahwa kekurangan listrik di Gaza adalah salah satu bentuk penderitaan “senyap” yang jarang diperhatikan. Proses pengisian daya itu sendiri menjadi beban harian yang melelahkan, ia harus berjalan antara 150 hingga 200 meter setiap hari dan mengeluarkan biaya antara dua hingga empat shekel (sekitar $0,65 hingga $1,30) per sesi pengisian, dua kali sehari.

“Biaya pengisian ini bisa mencapai sekitar delapan hingga sepuluh shekel per hari, atau sekitar 270 hingga 300 shekel per bulan, jumlah yang besar mengingat kurangnya pendapatan di kalangan keluarga yang terdisplaced,” ungkapnya.

Di tengah krisis listrik yang berkepanjangan, banyak alternatif muncul, seperti lampu tenaga surya. Namun, harganya sangat mahal, mencapai 300 shekel ($95) yang menghalangi sebagian besar penduduk untuk membelinya. Sistem tenaga surya yang lebih lengkap pun memiliki harga yang jauh lebih tinggi, mencapai $420 per panel, belum termasuk biaya baterai dan inverter.

Keluarga Abdel Karim bukanlah satu-satunya yang merasakan dampak dari pemadaman listrik ini. Selama dua tahun terakhir, Gaza telah menghadapi pemadaman bergilir yang mengganggu setiap aspek kehidupan sehari-hari, terutama bagi mereka yang memiliki anak kecil. “Tidak ada kulkas, tidak ada mesin cuci, bahkan susu bayi pun tidak bisa disimpan lebih dari dua atau tiga jam,” tuturnya.

Abdel Karim menyadari bahwa penderitaannya adalah potret sebagian besar masyarakat Gaza, yang terjebak dalam kenyataan yang sama. “Kami berharap Tuhan memberikan kelegaan, karena kami benar-benar tidak memiliki solusi, seolah-olah ditinggalkan di gurun,” harapnya.

Krisis listrik di Gaza bukanlah hal baru. Sejak penarikan Israel dari pemukiman ilegal di Gaza pada 2005, akses keluar masuk wilayah ini tetap dalam kendali Israel. Sebelum perang dimulai, banyak rumah hanya mendapat pasokan listrik beberapa jam sehari.

Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Israel memberlakukan “pengepungan total” dan memutus pasokan listrik serta blokade impor bahan bakar. Dalam waktu singkat, infrastruktur listrik Gaza mengalami kerusakan serius, memaksa banyak penggunaan generator yang terbatasi karena kelangkaan bahan bakar.

Keadaan ini menciptakan peluang bisnis baru bagi Jamal Musbah, seorang pengusaha berusia 50 tahun yang menjalankan stasiun pengisian daya bertenaga matahari dan generator. Meski demikian, ia harus menghadapi tantangan besar akibat kerusakan beberapa panel surya yang mengurangi pendapatannya.

“Dulu, kami bisa mengisi antara 100 hingga 200 ponsel setiap hari. Sekarang, kami hanya bisa mengisi 50 hingga 60 ponsel maksimal,” jelas Jamal. Walaupun ia berhasil mendapatkan pendapatan dari krisis ini, tantangan yang dihadapi oleh Jamal tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh masyarakat Gaza secara keseluruhan.

“Kesulitan ekonomi telah mempengaruhi kita semua. Bahkan layanan dasar seperti pengisian ponsel kini menjadi beban berat. Satu-satunya solusi nyata dan permanen adalah pemulihan resmi pasokan listrik ke Jalur Gaza,” pungkasnya.


Sumber: Klik di Sini

Editor: Redaksi JurnalBMR

Dapatkan informasi ekonomi dan bisnis terbaru setiap hari hanya di JurnalBMR.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *